• Beranda
  • Home
  • World
  • US
  • Business
    • Category
      • Category
      • Category
      • Category
      • Category
    • Category
    • Category
    • Category
  • Entertainment
  • Sports
  • Technology
  • Editor's picks
  • Top Stories
    • Category
    • Category
    • Category
    • Category
You are here : Home »
Tampilkan postingan dengan label Seputar Indonesia. Tampilkan semua postingan
BOGOR - Isu hantu pocong keliling (poling), mulai meresahkan warga di dua kecamatan di Kota Bogor. Cerita poling yang semula hanya dari mulut ke mulut, tidak di respons berlebihan warga. Namun memasuki satu minggu terakhir, semakin banyak warga yang percaya.

Begitulah yang terjadi di tengah masyarakat Kecamatan Tanah Sareal dan Kecamatan Bogor Barat. "Kami sekarang takut keluar malam, karena isu pocong keliling itu, ternyata benar adanya.

"Banyak warga sudah melihatnya. Saya sendiri belum, namun saya berdoa, agar tidak mau melihat mahluk itu," ujar Mirna (40), warga Kampung Sindang Barang Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor.

Isu pocong keliling, diakui ibu tiga anak ini, sebenarnya sudah lama, kurang lebih satu setengah bulan lalu. Saat itu, warga enggan berkomentar, karena yang di bicarakan adalah mahluk gaib yang katanya memiliki kekuatan luar biasa.

Bahkan pengurus RT meminta, agar masalah ini jangan terus dibicarakan, jika tidak ingin menjadi kenyataan. "Eh sekarang malah terbukti. Banyak warga sudah melihatnya. Ini mungkin karena sering warga membicarakannya sehingga dia langsung menampakkan wajahnya pada orang yang sering membicarakannya," kata Mirna menduga-duga penampakan pocong tersebut.

Begitu kuatnya berita poling tersebut, membuat kaum bapak yang setiap malam melakukan tugas rutin ronda, kini lebih memilih dalam rumah dan tinggal bersama istri dan anak.

Penelusuran di Kecamatan Tanah Sareal, sejumlah warga mengaku sudah melihat pocong yang membuat heboh itu. Salah satunya, Makmur (47), yang tinggal di kampung Kayu Manis.Dia mengaku melihat pocong saat keluar malam hari.

"Saat itu saya ke jamban untuk ambil air wuhu. Baru beberapa langkah, saya melihat pocong berdiri di dekat jamban. Takut saya langsung teriak minta tolong. Dari situ, saya tidak mau lagi keluar malam," ujar Makmur. 



Sumber: news.okezone.com





Rakyat harus mengawal penuntasan kasus Mega Skandal Perbankan ini. Para pejabat di ring satu kekuasaan diduga kuat terlibat.


Kasus Bank Century merupakan kasus yang sesungguhnya tidak bisa lepas, malah diyakini menjadi trigger bagi kasus kriminalisasi KPK (Bibit-Chandra) karena kasus penyadapan Susno Duadji yang tengah bertelepon-ria dengan Budhi Sampoerna dalam kasus Century menjadi awal bagi pertarungan Cicak dan Buaya ini. Setelah Kasus Bibit-Chandra tengah diselesaikan hari-hari ini, gerakan pro-reformasi mendesak kuat agar kasus Bank Century yang diduga kuat melibatkan sejumlah petinggi negara seperti Wakil Presiden Budiono (mantan Gubernur Bank Indonesia) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Bahkan jika ditelusuri lebih jauh dan dalam, bukan mustahil dan sebab itu harus dibuktikan dengan keras dan berani, orang nomor satu di negeri ini juga harus bertanggungjawab, karena ada dugaan jika aliran dana para deposan besar Bank Century mengalir ke pihaknya yang merupakan sebuah skandal besar pendanaan pemilu dan pemilihan presiden yang diselenggarakan negeri ini beberapa bulan lalu. Semua harus diusut demi hukum yang memenuhi rasa keadilan rakyat, bukan demi hukum yang melestarikan kebusukan status-quo.
Bukankah aneh, dalam pilpres kemarin ada pasangan calon presiden dan wapresnya yang mengaku paling miskin hartanya, paling minim dananya, namun bisa jor-joran kampanye dan mengalahkan “kemeriahan dan kemewahan” kampanye pasangan lainnya. Publik Indonesia sangat tahu pasangan capres-cawapres mana yang paling mewah saat pilpres kemarin. Dananya dari mana?
Siapa Reformis, Siapa Cari Aman, Siapa Yang Busuk
Ada satu lagi yang harus dicatat baik-baik seluruh rakyat Indonesia dalam memperhatikan kasus Bibit-Chandra dan Kasus Bank Century ini. Jika kita memperhatikan pemberitaan di berbagai media massa nasional, media cetak maupun elektronik seperti teve dan radio, maka kita akan disuguhi “pertempuran” pernyataan, antara tokoh-tokoh yang ingin menegakkan kebenaran berhadapan dengan tokoh-tokoh yang ingin menegakkan kekuasaan seenaknya.
Yang pertama menganggap hukum dan segala perundangan harus dan wajib memenuhi rasa keadilan masyarakat banyak, sedangkan kelompok yang kedua biasanya berlindung di balik hukum dan perundang-undangan yang normatif, yang bisa dibolak-balik sesukanya, sehingga tidak masalah jika hukum yang ada malah menzalimi rasa keadilan rakyat.
Di tengah-tengah pertarungan ini ada sekelompok tokoh masyarakat seperti anggota DPR atau politisi, tokoh-tokoh partai dan sebagainya, yang memilih diam terhadap kasus yang melukai rasa keadilan rakyat Indonesia ini. Mereka sama sekali tidak berkomentar atau menyatakan sikapnya terhadap dua kasus besar ini. Istilah lugasnya: golongan ini mencari aman di tengah pertempuran dua kelompok besar yang secara diemtral memang berlawanan. Biasanya, kelompok ini berjiwa “kutu loncat”, akan segera bergabung dengan pihak mana saja yang menang.
Rakyat harus mencatat siapa-siapa saja yang tokoh masyarakat atau partai politik yang berani bersikap menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, siapa saja tokoh masyarakat atau partai politik yang berpihak pada kekuasaan, dan siapa saja tokoh masyarakat dan partai politik yang memilih “cari selamat sendiri” dengan mengambil sikap diam.
Hal ini sangat perlu dilakukan masyarakat agar kita tidak lagi tertipu oleh bualan dan tipuan para tokoh dan partai politik yang ada. Dalam Pemilu 2009 kemarin, semua partai politik mengaku sebagai yang paling perduli, paling bersih, paling anti korupsi, paling membela rakyat, paling profesional. Namun dalam kasus Bibit-Chandra dan Kasus Bank Century, semuanya tiarap dan cari selamat.
Bang Roni, tukang rujak di bilangan Senen bilang, “Pade kemane kalian semua!” Ini adalah suara rakyat yang paling murni.
Kita sejak sekarang harus memilah, mana yang benar-benar berani untuk menegakkan keadilan, mana yang jelas-jelas busuk, dan mana yang oportunis alias cari selamat sendiri. Inilah modal rakyat untuk memperbaiki Indonesia dalam pemlu tahun 2014. Mudah-mudahan rakyat mencatatnya lekat-lekat di memori otak paling dalam dan tidak lagi tertipu seperti halnya pemilu beberapa bulan lalu.
Menunggu Sikap DPR
Bagai bola salju yang tiada seorang pun bisa menahannya, demikian juga dengan kasus manipulasi perbankan bernama Century yang diduga kuat melibatkan sejumlah orang penting di lingkaran satu negara ini.
Setelah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyerahkan hasil audit investigasi Bank Century ke DPR, walau tidak mengungkap aliran dana sebesar 6,7 triliun rupiah yang merupakan uang rakyat kemana, BPK berdalih hal ini merupakan kewenangan dari PPATK, namun sejumlah temuan BPK dengan tegas menyatakan jika kasus kriminal perbankan ini memang banyak kejanggalan dan bersifat konspiratif. Sikap BPK tegas, Bank Indonesia (BI) dalam hal kasus Century memang sangat janggal dan aneh. Gubernur BI Budiono yang kini menjadi Wakil Presiden dan Menteri Keuangan Sri Mulyani—keduanya loyalis SBY—menjadi pusat dari segala kejanggalan ini. Apalagi politisi PAN yang juga pengamat ekonomi Dradjat Wibowo mengeluarkan satu notulen rapat rahasia terkait pemahasan “menolong” Century yang membuat banyak petinggi negara ini tersengat.
Fraksi Partai Demokrat yang semula enggan bergabung dengan Panitia Hak Angket DPR dalam kasus Century dan berlindung dibalik BPK akhirnya “mati langkah”: Tetap keukeuh menolak bergabung berarti mengindikasikan kuat jika mereka terlibat, namun jika bergabung maka dengan itu berarti ikut “menembak” diri sendiri. Walau demikian, F-PD akhirnya bergabung dan para pimpinannya berkali-kali dengan lantang menyatakan akan berdiri paling depan dalam kasus pemberantasan korupsi, termasuk dalam pengungkapan Kasus Century.
Walau demikian, sejumlah pengamat mengingatkan DPR dan juga rakyat banyak agar bersikap hati-hati dengan sikap mereka ini karena bisa saja di dalam malah akan terjadi penggembosan hak angket DPR, seperti yang selama ini menimpa hak angket-hak angket lainnya. Beberapa tokoh Senayan juga mengingatkan agar Ketua Panitia Hak Angket jangan dari partai pendukung pemerintah karena bisa saja nanti malah melakukan “harakiri” hak angket Century itu sendiri.
Temuan BPK juga sekaligus membantah keras pernyataan Jampidsus Kejagung Marwan Effendy yang belum apa-apa telah mengatakan tidak adanya unsur pidana dalam bailout Bank Century Rp 6,7 triliun (Jawa Pos, 24/10). Pernyataan tersebut dinilai banyak pihak sebagai indikasi jika kasus Century memang melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara termasuk insansi terkait yang sangat mungkin melebihi konspirasi kasus Bibit-Chandra.
“Belum ada apa-apa Jampidsus mengatakan tidak ada unsur pidana. Saya semakin yakin bahwa ada upaya sistematis men-deponering kasus Century,” ujar pengamat ekonomi Drajad Wibowo saat diskusi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, akhir Oktober lalu.
Hari-hari ini, rakyat Indonesia harus mengawal Panitia Hak Angket Kasus Bank Century di DPR agar panitia ini bisa bekerja maksimal dan bukan cuma “gertak sambel” atau bahkan dijadikan komoditas untuk kepentingan partainya sendiri.
Di hari-hari ini, upaya pengungkapan kasus Bank Century tengah bergelinding kencang. Dan semoga tetap demikian sehingga al-haq akan bisa terungkap dan kebathilan akan bisa dilihat semua mata rakyat Indonesia.
Dalam tulisan mendatang, akan dibahas kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam kasus perbankan yang amat kental aroma konspiratifnya. Banyak pihak, pejuang kebenaran, sudah memaparkannya, namun kami akan mencoba untuk merangkumnya untuk Anda semua. Semoga semua menjadi jelas. (bersambung/ridyasmara)

Sumber: eramuslim.com
Bagaimana hakikat bank ribawi seperti Bank Century itu? Simak dialog yang pernah dimuat dalam majalah humor Inggrs, Punch, 3 April 1957.




Sebelumnya perkenankan kami memberi ilustrasi hakikat bank ribawi yang ada di seluruh dunia, seperti halnya Bank Century ini, agar kita semua memiliki gambaran yang sama tentang hakikat bank ribawi. Sebuah majalah humor Inggris, Punch, pada 3 April 1957 pernah memuat satu bagian tanya jawab tentang hakikat bank. Kami mengutipnya, dengan perbaikan di sana-sini, dari pendahuluan buku “The Federal Reserve, Monster dari Jekyll Island: Sebuah Studi Mendalam tentang The Federal Reserve” (Edward Griffin, 1994). Berikut tanya jawabnya:
T : Bank itu untuk apa, sih?
J : Untuk membuat uang.
T : Uang untuk nasabah?
J : Bukan, untuk bank.
T : Kok iklan-iklannya tidak bilang begitu?
J : Ya mungkin mereka kurang enak jika berkata jujur. Tapi bisa diketahui dengan melihat pada cadangan bank sekira US $249 juta. Itu uang yang bank buat.
T : Di luar nasabah?
J : Demikianlah.
T : Selain itu, bank juta menyebukan Akiva sekira US $500 juta. Apakah itu uang yang bank buat juga?
J : Tidak persis demikian. Itu adalah uang yang bank pakai untuk menciptakan uang kembali.
T : Oo, begitu. Dan bank menyimpan uang itu di tempat yang aman?
J : Tidak sama sekali. Tapi uang itu dipinjamkan kepada para nasabah.
T : Jika begitu uangnya sebenarnya belum ada dong?
J : Ya, belum.
T : Jadi, aktiva US $500 juta itu apa?
J : Lho, itu kan pasti akan jadi milik bank juga nantinya.
T : Tapi bank kan harus benar-benar punya uang yang disimpan di tempat yang aman?
J : Ya, biasanya lebih kurang US $500 juta. Ini disebut Pasiva.
T : Tapi, kalau sudah didapat, kenapa disebut lagi sebagai Pasiva?
J : Ya karena uang itu sebenarnya bukan milik bank.
T : Tapi kenapa uang itu ada di bank?
J : Karena uang itu dipinjam dari para nasabah bank.
T : Maksudnya, para nasabah meminjamkan uangnya kepada bank?
J : Tepat. Nilai uang itu dicatat di dalam buku rekening para nasabah sedangkan uangnya dipinjam bank.
T : Lalu apa yang diperbuat bank dengan uang itu?
J : Ya dipinjamkan kepada nasabah lain yang memerlukannya.
T : Hm, tadi Anda katakan uang yang dipinjamkan kepada orang lain itu adalah Aktiva?
J : Ya.
T : Jadi Aktiva dan Pasiva merupakan dua hal yang sama?
J : Ooo… tidak persis demikian.
T : Tadi Anda bilang begitu. Jika saya taruh US $100 ke dalam rekening saya di bank itu, bank wajib mengembalikannya kepada saya, maka itu disebut Pasiva. Bank itu lalu meminjamkan uang itu kepada orang lain, dan orang lain itu wajib mengembalikan kepada bank, maka uang itu disebut Aktiva. Itu kan uang Us $100 yang itu-itu juga?
J : Ya, benar itu. Tapi…
T : Kalau uang itu kita hapus, seluruh uang nasabah dihapus, berarti bank itu sebenarnya tidak punya uang sama sekali?
J : Ya, demikian secara teori…
T : Bailah jika secara teoritis. Tapi jika bank tidak punya uang, darimana bank mendapatkan cadangan sekira US $249 juta yang tadi itu?
J : Tadi kan sudah saya katakan, bank yang buat.
T : Caranya?
J : Ya, ketika bank itu meminjamkan US $100 uang Anda kepada nasabah lain, bank membebankan orang itu dengan bunga.
T : Berapa banyak?
J : Tergantung pada tingkat suku bunga. Katakanlah lima setengah persen. Itulah laba dari bank atau dikatakan sebagai bank membuat uangnya sendiri. Dari bunga.
T : Mengapa bunga itu bukan keuntungan saya? Bukankah itu uang saya sebenarnya?
J : Ya, begitulah cara kerja sebuah bank, bahwa….
T : Waktu saya pinjamkan kepada bank itu US $100 uang saya, kenapa tidak saya bebankan bunga kepada bank?
J : Lho, kan itu Anda lakukan…
T : Anda tidak bilang demikian. Berapa banyak?
J : Tergantung pada suku bunga bank itu. Katakanlah setengah persen.
T : Kok pelit sekali?
J : He he he… dan itu jika Anda tidak menarik uang Anda kembali.
T : Jika begitu lebih baik saya tarik seluruh uang saya, dan saya kubur di halaman rumah saya?
J : Jika Anda berbuat begitu, bank tidak akan senang.
T : Kok begitu? Bila saya biarkan uang saya di bank, kan jadinya Pasiva. Dengan begitu saya kan mengurangi beban kewajiban bank?
J : Bukan begitu. Kalau Anda tarik uang Anda, maka bank tidak punya Aktiva.
T : Tapi bukankah kalau kita ingin menarik uang kita kembali, bukankah bank harusnya mengizinkannya?
J : Pastilah…
T : Tapi, jika uang saya sedang dipinjamkan oleh bank ke nasabah lain bagaimana?
J : Bank akan mempersilakan Anda mengambil uang orang lainnya.
T : Tapi jika orang lain itu juga ingin mengambil uangnya? Semua nasabah serentak ingin mengambil uangnya sendiri, bagaimana?
J : Itu kan teori. Dalam kenyataannya tidak demikian.
T : Kalau itu terjadi juga dalam kehidupan nyata?
J : Ya, bank tidak akan mampu untuk mengembalikan uang seluruh nasabahnya…
T : Kalau begitu bank sebenarnya tidak punya komitmen dong.
J : Saya tidak bilang begitu.
T : Tentu saja Anda tidak akan jujur bilang demikian. Cukup atau masih ada keterangan lain?
J : Cukup sajalah. Anda kini boleh pergi ke bank dan membuka rekening.
T : Mm… sebenarnya masih ada satu lagi pertanyaan.
J : Boleh, apa itu?
T : Saya pikir, apa tidak sebaiknya saya membuka bank saja ya?
Demikianlah hakikat bank. Bank konvensional hanya bisa hidup dan bertahan karena mendapat kepercayaan (Trust) dari nasabahnya. Sedangkan kepercayaan nasabahnya tumbuh karena bank mendapat jaminan dari bank sentral. Setiap tahun bank mendapat rating dari bank sentral dan dari rating itulah kepercayaan nasabah bisa bertambah atau turun.
Bank Century, bertahun-tahun bank ini memiliki rating yang buruk. Namun dalam kasus Bank Century sekarang, adalah sangat ganjil ketika bank yang buruk ini “dipercaya” oleh nasabahnya sehingga nasabahnya mau menyimpan uangnya dalam jumlah yang sangat amat besar. Ini sungguh-sungguh aneh sehingga menimbulkan banyak tanda tanya. Salah satu dugaan yang mengemuka adalah, seperti yang dikatakan ekonom Ichsanudin Noorsi di berbagai forum, Apakah Bank Century yang rapuh ini telah dijadikan lembaga pencucian uang menjelang Pemilu 2009 kemarin, di mana dananya mengalir ke sebuah partai politik besar? (bersambung/ridyasmara)

Sumber: eramuslim.com
“Kasus Bank Century jika dibuka akan panjang dan melebar kemana-mana,” kata H.M. Jusuf Kalla kepada Said Agil Sirajd, saat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu bertemu Kalla di Jakarta (4/9).



“Kasus Bank Century jika dibuka akan panjang dan melebar kemana-mana,” kata H.M. Jusuf Kalla kepada Said Agil Sirajd, saat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu bertemu Kalla di Jakarta (4/9). Ketika pernyataan itu dikejar, Jusuf Kalla mengelak dan hanya mengemukakan jiika dirinya sedari awal tidak setuju dengan bailout Bank Century karena yakin jika kasus yang menimpa bank tersebut merupakan perampokan pejabatnya sendiri.
Apa yang telah diduga Kalla sepertinya akan menjadi kenyataan. Hari-hari ini kita terus dibombardir perkembangan demi perkembangan kasus Kriminalisasi KPK yang entah bagaimana rupa ujungnya. Beririsan dengan kasus tersebut, sejumlah tokoh nasional dan eksponen pro-reformasi, dengan lebih kritis melihat jika keseluruhan kasus ini sesungguhnya bermuara dari kasus Bank Century.
Ketua Umum PP Muhammadiyah dan mantan presiden Abdurrahman Wahid dengan tegas menyatakan jika kasus penahanan Ketua KPK non-aktif Bibit Samad Ryanto dan Chandra Hamzah sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari pengusutan kasus pencairan dana pada Bank Century (Kompas, 1/11). ”Jauh-dekat, kasus itu ada kaitannya dengan Bank Century yang diduga melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara,” ujar Din Syamsuddin. Sementara Gus Dur mengingatkan agar KPK tidak surut dan tetap fokus untuk mengusut kasus Bank Century.
Bahkan Tim-8 yang dibentuk Presiden Susuilo Bambang Yudhoyono pun dalam beberapa jumpa pers menyatakan jika kasus Bibit-Chandra memang terkait dengan kasus Century.
Perkembangan mutakhir kasus ini adalah dengan bergulirnya Hak Angket yang diajukan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terhadap kasus ini yang sejak digulirkan hingga hari ini (13/11) telah mendapat dukungan 139 anggota DPR dari enam fraksi, kecuali Fraksi Partai Demokrat yang berkilah lebih memilih menunggu hasil akhir audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menurut Ketua BPK Hadi Purnomo di Jakarta kemarin (12/11), mengatakan, jika sampai saat ini BPK masih mengumpulkan data seputar Bank Century dan menganalisanya.
“Data yang telah dikumpulkan auditor BPK itu macam-macam, ada dalam bentuk wawancara, tertulis, dan ada laporan dari PPATK (Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan),” katanya. Auditor BPK, ia berharap, bisa secepatnya menganalisa data tersebut dan menyusunnya menjadi laporan. Hadi Purnomo yang baru menjabat sebagai Ketua BPK menggantikan Anwar Nasution berharap, “Mudah-Mudahan bisa selesai, tapi jika belum selesai pada akhir Nopember, ya pada akhir Desember.”
Juru Bicara Inisiator Hak Angket Kasus Bank Century, Maruarar Sirait yang berasal dari PDIP sedikit kecewa dengan Ketua DPR Marzuki Alie yang sepertinya enggan ikut menandatangani pengajuan hak angket tersebut, walau para wakil ketua DPR lainnya telah setuju. Marzuki Alie yang berasal dari Partai Demokrat ini memang bukan sekali ini saja terkesan malas bersikap kritis terhadap pemerintahan SBY-Budiono. Ketika DPR hendak memanggil Menteri Kesehatan yang baru, Endang Sedyaningsih, yang penunjukkannya oleh SBY menimbulkan kontroversi karena dikenal sebagai orang yang akrab dengan Namru-II, Ketua DPR Marzuki Alie dengan keras menyatakan ketidaksetujuannya dan “memveto” acara rapat dengar pendapat dengan menteri baru ini dengan mengatakan jika acara-acara serupa tidak ada manfaatnya.
Pengajuan hak angket DPR sendiri sebenarnya jug amenimbulkan keraguan banyak pihak karena belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, hak angket ini biasanya hanya “panas” diawal namun dengan cepat menjadi tak jelas ujungnya atau terkesan hanya normatif. Salah satu contoh paling baik adalah ketika DPR lewat pansus hak angket Daftar Pemilih Tetap (DPT) mencoba untuk mengkritisi DPT Pemilu 2009 yang kisruh kemarin. Namun hasilnya benar-benar mengecewakan karena hanya menghasilkan keputusan normatif. Namun walau bagaimana pun, mau tidak mau rakyat harus tetap mengawasi jalannya proses hak angket terkait Century ini. Hanya saja, mungkin kita jangan terlalu berharap banyak pada parlemen negeri ini, yang bukan rahasia umum lagi sudah lama dikenal sebagai institusi yang NATO (Not Action Talk Only).
Lima Sasaran Hak Angket DPR
Juru Bicara inisiator Hak Angket Bank Century, Maruarar Sirait, dalam pernyataan tertlisnya yang dirilis Kamis (12/11) mengemukakan lima sasaran fokus penyelidikan DPR terhadap kasus ini, yakni: Pertama, "…mengetahui sejauh mana pemerintah melaksanakan peraturan-peraturan perundangan yang berlaku. Terkait keputusannya untuk mencairkan dana talangan (bailout) Rp 6,76 triliun untuk Bank Century."
Poin kedua adalah mengurai secara transparan komplikasi yang menyertai kasus pencairan dana talangan Bank Century. Termasuk mengapa bisa terjadi perubahan Peraturan Bank Indonesia secara mendadak. Juga keterlibatan Kabareskrim Polri Komjen Pol Susno Duadji dalam pencairan dana nasabah Bank Century sebesar Rp 2 triliun.
“Juga kemungkinan terjadinya konspirasi antara para pemegang sahan utama Bank Century dengan otoritas perbankan dan keuangan pemerintah,” ujar Maruarar.
Ketiga, menyelidiki ke mana saja aliran dana talangan Bank Century, mengingat sebagaian dana talangan tersebut oleh direksinya justru ditanamkan dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) dan dicairkan bagi nasabah besar (Budi Sampoerna). Sementara kepentingan nasabah kecil justru terabaikan.
“Adakah faktor kesengajaan melakukan pembobolan uang negara demi kepentingan tertentu, politik misalnya. Melakukan skenario bailout bagi Bank Century?" tambah Maruarar yang akrab disapa Bang Ara ini.
Keempat, menyelidiki mengapa bisa terjadi pengelembungan dana talangan menjadi Rp 6,76 triliun bagi Bank Century tanpa persetujuan DPR. Sementara Bank Century hanyalah sebuah bank swasta kecil yang sejak awal bermasalah. Padahal DPR hanya menyetujui dana talangan sebesar Rp 1,3 triliun.
Kelima, mengetahui seberapa besar kerugian negara yang ditimbulkan kasus bailout Bank Century. Serta sejauh mana kemungkinan penyelamatan uang negara bisa dilakukan. Hal ini sangat penting mengingat kondisi rakyat banyak yang masih sangat susah hidupnya dan demi memenuhi rasa keadilan rakyat.
Kronologis Kasus Century
Sebelum membahas lebih jauh tentang perkembangan kasus yang melibatkan sekurangnya dua petinggi negara kala itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Budiono (sekarang sebagai Wakil Presiden RI), sebaiknya kita mengetahui kronologis kasus ini agar sedikit banyak mengetahui bagaimana proses bailout pemerintah yang mengorbankan uang rakyat sebesar minimal Rp 6,7 triliun demi menyelamatkan sebuah bank kecil bermasalah yang oleh Jusuf Kalla semasa masih menjabat Wakil Presiden RI dikatakan sebagai bank yang dirampok oleh dreksinya sendiri. Dan kita juga harus memahami apakah sebenarnya mahluk yang bernama “Bailout Game” itu? Agar semua pihak mengerti betapa jahatnya tindakan yang ditempuh pengambil kebijakan negara ini terhadap rakyatnya sendiri. (bersambung/ridyasmara)


Sumber: eramuslim.com



Mahkamah Konstitusi mengabulkan sebagian permohonan uji materiil Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Uji materiil itu diajukan oleh dua pimpinan non aktif Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.
Keduanya dinonaktifkan karena menjadi tersangka penyalahgunaan wewenang dan pemerasan sehingga posisinya digantukan melalui Peraturan Pengganti Undang-undang. Namun keduanya berpendapat penonaktifannya yang berdasarkan UU KPK melanggar hak konstitusinya sehingga perlu pengujian Pasal 32 Ayat 1 huruf c.
Mereka menduga pula pencopotannya karena rekayasa sehingga diperdengarkan rekaman penyadapan Anggodo Widjojo dengan sejumlah petinggi di Polri dan Kejaksaan Agung. Anggodo adalah adik buronan KPK Anggoro Widjojo yang lari ke Singapura setelah terlibat kasus korupsi.
Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyatakan telah mengabulkan sebagian pemohon dalam sidang putusan di gedung MK.  Menurut MK, Pasal 32 Ayat 1 huruf c bersyarat. "Pasal 32 Ayat 1 huruf c tentang KPK adalah inkonstitusional kecuali dimaknai pimpinan KPK berhenti setelah dijatuhi pidana berdasarkan putusan pengadilan dan berkekuatan hukum tetap," kata Mahfud.
Pasal 32 Ayat 1 huruf c UU KPK itu berbunyi "Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi berhenti atau diberhentikan karena menjadi terdakwa dalam tindak pidana kejahat. Dengan dikabulkan permohonan Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, yang merupakan Ketua KPK non aktif itu, membuktikan memang terjadi proses 'kriminalisasi' terhadap unsur pimpinan KPK, dan tujuannya ingin menghancurkan lembaga KPK itu sendiri. (m/bbc)


Sumber: eramuslim.com


Mahkamah Agung (MA) kemarin, Rabu (25/11/09) telah menolak kasasi yang diajukan pemerintah terkait pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Dengan demikian, penyelenggaraan UN pada tahun mendatang ditiadakan sampai pemerintah meningkatkan kualitas guru dan sarana prasarana di tiap wilayah di Indonesia.
Putusan MA itu melarang Departemen Pendidikan Nasional menyelenggarakan ujian nasional sebelum ada perubahan sistem pendidikan yang merata. Putusan yang dibacakan majelis kasasi tersebut telah diumumkan pada 14 September 2009 dan sekaligus menguatkan putusan dari pengadilan tingkat pertama dan banding.
Majelis menilai pemerintah telah lalai dalam meningkatkan kualitas guru, sarana dan prasarana pendidikan, serta informasi, khususnya di daerah pedesaan. Selain itu, ujian nasional juga dinilai membuka peluang untuk berbuat kecurangan baik yang dilakukan guru maupun siswa agar dapat lulus ujian.
Kerugian diadakannya ujian nasional bukan hanya berupa materiil, yaitu biaya pendidikan selama tiga tahun (di tingkat Sekolah Menengah Atas), tapi juga kerugian imateriil, yaitu tekanan psikologis.
Gugatan terhadap penyelenggaraan UN ini bermula dari masyarakat kepada Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang dianggap lalai memenuhi kebutuhan HAM di bidang pendidikan. Peradilan pun berlanjut hingga MA mengeluarkan surat putusan dengan nomor register 2596 K/PDT/2008 tertanggal 14 September 2009 yang melarang ujian nasional yang diselenggarakan Depdiknas. Akhirnya, kemarin MA kemudian menolak kasasi yang diajukan pemerintah.
Sebenarnya, putusan hakim MA tidak secara terbuka melarang penyelenggaraan ujian nasional. Namun, hakim tetap menganggap pemerintah lalai terhadap pemenuhan kebutuhan HAM di bidang pendidikan, yaitu dengan tidak memberikan fasilitas yang memadai, baik dari segi peningkatan kualitas guru maupun fasilitas pendidikan, terutama di daerah terpencil. Artinya, pemerintah bisa kembali menggelar UN jika telah dapat menjamin kualitas guru dan sarana pendidikan di daerah tertinggal sama dengan kondisi di perkotaan. Dengan demikian, standar pendidikan yang sama dapat diterapkan di seluruh wilayah Indonesia.
Di sisi lain, pihak Depdiknas ternyata belum dapatkan salinan putusan dari MA tersebut. Kepala Humas Komunikasi dan Informasi Depdiknas, M. Muhadjir, menandaskan, bahwa UN diterapkan di semua negara sebagai bentuk standardisasi kemampuan para siswa dan mahasiswa untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih baik.
Bagaimana pun juga, putusan ini dianggap sebagai kemenangan bagi para 'korban' UN dan secara umum, kemenangan anak Indonesia, yang selalu dibayangi ketakutan akan tidak lulus dalam ujian padahal telah belajar selama tiga tahun. (Ind/VVn)
 
Sumber: eramuslim.com

Aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (KOMPAK) merespon pidato tanggapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap rekomendasi Tim Delapan, saat menyaksikan tayangannya melalui televisi di Kantor Imparsial, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (23/11) malam.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik dari Reform Institute, Yudhi Latief, menyerukan agar semua rakyat Indonesia bersatu untuk ikut melawan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pasalnya, Presiden dianggap tidak mengerti bahasa rakyat.

"Susah mengharapkan Presiden karena Presiden sendiri menjadi bagian dari persoalan itu sendiri," kata Yudhi Latief di Kantor Imparsial, Senin (23/11) malam.

Yudhi mengatakan, pidato mengenai sikapnya terkait rekomendasi Tim Delapan betul-betul mengecewakan. Momen yang seharusnya digunakan Presiden untuk menjawab kebingungan rakyat, hal tersebut disia-siakan.

"Ini artinya SBY tidak mengerti bahasa masayarakat, tidak tahu rasa keadilan. SBY hanya mempertimbangkan kekuasaan sendiri bukan menyelamatkan masayarakat," katanya.

Untuk itu, kata Yudhi, atas nama masyarakat, mereka akan berjuang menggoyang posisi SBY. Pasalnya, Presiden yang tidak mengerti bahasa rakyat dianggap tidak bisa memimpin negara ini lebih lama lagi.

"SBY kehilangan logika umum, bagaimana bisa seluruh pidatonya hanya retorika kosong," ujar dia.

Dia mengatakan, pidato Presiden menjadi mengambang karena tidak ada keputusan apa pun yang diambil. "Tidak ada ketegasan langkah apa yang akan diambil," ucap Yudhi Latief.


Sumber: kompas.com


JAKARTA, KOMPAS.com — Siapakah Ito Sumardi yang menjabat sebagai Kepala Bareskrim Mabes Polri yang baru? Ito kelahiran Bogor, 17 Juni 1953, ini pernah menjabat dua kali Kapolda, yaitu Kapolda Riau dan Kapolda Sumsel. Ito polisi yang suka belajar. Selain pengalamannya di kepolisian relatif lengkap, gelar akademisnya cukup banyak, yaitu Doktor Hukum Pidana, Sarjana Hukum, MBA, MM, dan MH.

Setelah lulus Akabri 1977, Ito bertugas sebagai Dansat Sabhara Kores 811 Serang 1978-1978, Dansek Taktakan Kores 811 Serang 1978-1978, Kasi Ops Kores 811 Serang 1978-1978, Dansat Binmas Kores 811 Serang 1978-1979, Kasi Ipp Kores 811 Serang 1979-1979, Dansat Reserse Kores 811 Serang 1979-1980, Dansek Baucau Res 15.3.2 Tim-Tim 1979-1979, Kasi Intel Res 15.3.1 Dilli Tim-Tim 1979-1979, Kasi Ppko Polwil 15.3 Tim-Tim 1979-1980, Ajudan Deputi Kapolri/Wakapolri 1980-1982, Kasubdis Krim Um Res Metro 701 Jakpus 1982-1983, dan Kasubdis Krim Sus Res Metro 701 Jakpus 1983-1985.

Ito kemudian melanjutkan pendidikan PTIK pada tahun 1986. Setelah itu, Ito menjabat Kassubag Kuliah Opsjarlat Ptik 1986-1989, Instruktur Pusdik Lantas Polri 1989-1990, Kasat Lantas Wil Jakarta Pusat 1990-1992, Wakasat Patwal Ditlantas Polda Metro Jaya 1992-1993, dan Kasat Lantas Polwiltabes Bandung, Jabar, 1993-1996.

Setelah menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi bidang hukum tahun 1996, Ito Sumardi menjabat Kabag Regident Ditlantas Polda Jabar 1996-1996, dan kemudian Dan Kontingen Garuda XIV/11 PBB 1996-1997. Ito kemudian menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana (Bisnis Administrasi) 1997, setelah itu menjabat Kapolres Karawang (1997-1998) dan Sesdit Lantas Polda Jatim 1998-1998, dan Kadit Lantas Polda Aceh 1998-1999.

Ito kemudian melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana (Manajemen Sumber Daya Manusia) tahun 1999. Setelah itu, Ito menjabat sebagai Kadit Lantas Polda Jateng 1999-2000, Kapolwiltabes Surabaya 2001-2003, dan Irwasda Polda Bali 2003-2004.

Tahun 2004 Ito Sumardi menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana (S-2) Hukum Pidana dan tahun 2005 meraih gelar Doktor Hukum Pidana dari Universitas Padjadjaran Bandung. Setelah itu, Ito Sumardi menjabat Direktur Samapta Babinkam Polri 2004-2005, Dan Satgas Ops Tsunami I 2004-2005, Dan Satgas Pengamanan Aceh Monitoring Mission 2005-2006, Direktur Pam Obsus Babinkam Polri 2005-2005, Kapolda Riau 2005-2006, Kapolda Sumsel 2006-2008, dan Koordinator Staf Ahli Kapolri (2008-2009).

Sumber: kompas.com
JAKARTA, KOMPAS.com - Forum Petisi '28 menuntut Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani mengundurkan diri karena diduga terlibat dalam kasus Bank Century. Dengan mundurnya dua pejabat ini, pengusutan terhadap kasus ini dapat berjalan secara independen.

"Nonaktifkan Sri Mulyani dan Boediono, dan semua yang terkait dalam kasus Century," ujar anggota Forum Petisi '28 Haris Rusly di gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (24/11).

Turut hadir dalam aksi seruan tersebut aktivis Komite Indonesia Bangkit Adhi Massardi.

Forum Petisi '28 berharap, hasil audit yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dapat membuka kebenaran dan kejelasan aliran dana bailout kasus Bank Century. Sayangnya, hingga kini hasil audit tersebut tak kunjung membuahkan hasil.

Menurut Forum Petisi '28, kesalahan kebijakan yang telah dilakukan Bank Indonesia dalam menggelontorkan dana bailout Bank Century disebabkan tidak adanya kejelasan dan transparansi dari Bank Indonesia.

BI dinilai tidak bertindak tegas dalam menerapkan aturan yang ditetapkan BI sendiri. Dan parahnya, lanjut Haris, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tidak memiliki dasar untuk menyatakan Bank Century dapat menimbulkan risiko sistemik.

Sumber: kompas.com
JAKARTA, KOMPAS.com — Komjen Susno Duadji resmi dicopot dari jabatan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri. Hal tersebut disampaikan dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (24/11) malam.


"Susno sekarang Pati Mabes Polri," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Nanan Sukarna.

Sebelum menyatakan hal tersebut, Nanan mengatakan bahwa pergantian pejabat tersebut merupakan bagian dari program mutasi di tubuh Mabes Polri. Mutasi tersebut menyangkut 25 personel Polri, masing-masing 16 perwira tinggi dan 9 perwira menengah.

Ihwal pencopotan Susno sebenarnya telah disampaikan Kepala Polri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri ketika berdiskusi dengan jajaran Redaksi Harian Kompas di kantor Palmerah Selatan, Jakarta Pusat pada Selasa siang. Akan tetapi, ketika itu Kapolri minta agar tidak dipublikasikan dulu sampai pengumumannya.

"Sepulang dari sini (kantor Kompas), kami langsung wanjak (menghadiri sidang Wanjakti). Setelah itu kami umumkan

Sember: kompas.com
Selain Wiliardi Wizard yang bikin heboh pengadilan, kesaksian terdakwa eksekutor pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Hendrikus Kia Walen pun punya kesaksian menarik. Hendrik mengaku kalau ada tim lain yang selalu membuntuti ia dan timnya yang terdiri dari Eduardus Noe Ndopo Mbete alias Edo, Fransiskus Tandon Keren, Daniel Daen Sabon dan Heri Santoso.

Setiap kali Hendrikus dan kawan-kawan membuntuti gerak-gerik korban, tim lain tersebut selalu ada di lokasi. Biasanya, tim lain itu memberikan isyarat tertentu. Mereka biasanya berkendaraan mobil terano, panther, dan motor. Pakaian mereka umumnya safari, membawa HT dan senjata.

"Mereka seperti kenal saya, tapi saya tidak kenal mereka. Setiap kami bergerak, mereka selalu ada," jelasnya pada persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, kemarin.

Edo yang juga bersaksi dalam persidangan mengakui hal ini. Edo mengaku pernah menanyakan keberadaan tim siluman itu ke Wiliardi. Dan Wiliardi mengiyakan kalau tim itu juga bagian dari tim aparat.

Selama operasi itu, semua anggota tim sipil yang direkrut oleh Edo ini sama sekali tidak ada order untuk membunuh Nasrudin. Edo mengaku bahwa ia dan timnya diminta Wiliardi hanya untuk membuntuti Nasrudin, karena orang ini dianggap membahayakan negara.

Saat hari eksekusi, seorang anggota tim Edo bernama Fransiskus menceritakan kalau saat itu bukan hanya mobilnya yang menghalangi mobil BMW Nasrudin. Ada Isuzu Panther merah. Tapi, ia tidak tahu siapa yang berada dalam mobil tersebut.

Begitu pun dengan kesaksian anggota tim Edo yang lain bernama Heri Santoso. Pengendara sepeda motor Yamaha Scorpio ini pun menyatakan keheranannya. Pasalnya, ada pengendara sepeda motor lain selain dirinya yang juga ikut menguntit Nasrudin.

Setelah peristiwa pembunuhan itu terjadi, Edo dan timnya mengaku disiksa polisi agar mengakui perbuatan membunuh Nasrudin Zulkarnaen.

Menurut Edo, ia dipukuli dan diminta untuk tidak menjadi pahlawan kesiangan. “Di atas kamu, kita sudah pegang semua. Ada anggota, ada Pak Sigid, dan di atasnya lagi ada pejabat negara, orang kuat negeri ini. Jadi kamu ngaku saja. Jangan jadi pahlawan kesiangan,” kata Edo menirukan bentakan aparat yang menyiksanya.

Dalam kesaksian di Persidangan Wiliardi Wizard, Edo menolak mengakui perbuatan tersebut. "Saya tidak pernah menyuruh membunuh Pak Nasrudin. Saya hanya menyuruh agar mengikuti Nasrudin kalau ada yang aneh agar menghubungi saya," ujarnya.

Sebelumnya, dalam sebuah diskusi soal pembunuhan Nasrudin, pengacara Edo pun membeberkan cerita yang disampaikan kliennya soal penyiksaan yang mereka alami. Menurutnya, semua anggota tim sipil yang dibentuk Wiliardi ini dibawa aparat ke sebuah tempat yang bernama Pondok Nirwana di daerah Cawang.

Di sana, mereka dipaksa untuk mengakui telah membunuh Nasrudin. Mereka ditelanjangi, disetrum, dan dipukuli. “Ini bukan cerita dari saya. Tapi ini fakta persidangan yang mereka sampaikan di persidangan,” ujar sang pengacara. mnh/dtk/berbagai sumber.


Sumber: eramuslim.com


Beberapa waktu lalu masyarakat dihebohkan dengan adanya orang yang mengaku Nabi dan Rasul dengan ajaran-ajaran sesatnya - sebut saja Ahmad Musadeq yang mengaku Rasul dengan kelompoknya yang bernama Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Kemudian ada Lia Edan yang mengaku utusan jibril dengan kelompoknya Salamullah yang kemudian berganti baju menjadi Kerajaan Tuhan Eden.

Muncul lagi Agus Imam Solichin dengan kelompok pengajiannya yang bernama Satria Piningit Weteng Buwono, dan masih banyak lagi manusia-manusia sejenis yang sempat kita baca di media baik cetak maupun elektronik yang mengaku-ngaku sebagai nabi ataupun rasul.

Sekarang dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi internet, seorang yang bernama Sakti A. Sihite dengan tegas menyatakan diri sebagai Rasulullah. Berbeda dengan orang-orang lain yang mengaku sebagai nabi atau rasul yang biasanya membentuk komunitas pengajian atau kelompok untuk mengeksistensikan dirinya sebagai utusan Tuhan, sang 'rasul' satu ini lebih memilih mendeklarasikan dirinya sebagai utusan tuhan lewat media blog dan memanfaatkan situs pertemanan Facebook.

Dalam tulisan di blognya Sakti mengatakan bahwa dirinya merasa telah dipilih tuhan untuk menjadi utusanNya sewaktu pada tahun 2005 ia mengalami semacam "induksi energi" (kesurupan?) yang sangat kuat yang membuat ia lemas satu sampai dua hari.Dan "induksi energi" ini semakin kuat hingga pada bulan September 2007 wujud induksi energi itu berupa luapan dari dalam dada yang mendesak supaya dirinya segera mengumumkan jatidiri sebagai rasul.

Dan akhirnya pada tanggal 13 September 2007 / 1 Ramadhan 1428 di dalam tidur, Sakti mengaku melihat ruh Tuhan, dalam wujud cahaya/energi berwarna hijau, datang dan memenuhi rongga dadanya. Cahaya/energi tersebut menyuarakan, “engkau adalah rasulullah, engkau adalah rasulullah…” berulang-ulang.

Tiga minggu kemudian tepatnya pada tanggal 1 Oktober 2007 (bertepatan dengan hari kesaktian Pancasila) Sakti A. Sihite mengumumkan kerasulannya kepada khalayak, tidak disebutkan pendeklarasian dirinya sebagai rasul kepada khalayak ramai dalam bentuk tabligh akbar atau ceramah umum - tapi sepertinya ia mengumumkan diri sebagai rasul lewat blog miliknya.

Tidak berbeda jauh pemahaman dirinya dengan kelompok sesat Ahmadiyyah yang memperkosa ayat tentang khataman nabiyyin (QS:33:40) dengan seenak udelnya sendiri, dirinya menyatakan bahwa di ayat tersebut hanya dikatakan bahwa nabi Muhammad disebut Allah sebagai penutup para nabi tapi tidak penutup para rasul.

Menariknya sang 'rasul' satu ini tidak mengharuskan orang-orang untuk mempercayai dirinya sebagai rasul, karena menurutnya tuhan telah menetapkan dengan pasti siapa saja orang yang akan diberi petunjuk dan siapa saja yang tersesat. Dengan kata lain, Sakti secara tidak langsung menuduh bahwa yang tidak percaya kepada dirinya sebagai rasul adalah sesat.

Sakti A.Sihite sang 'rasul' di dunia maya ini terlahir dari keluarga batak Muslim, ia mengaku sejak kecil sudah di sunat, belajar mengaji di madrasah dan sewaktu kuliah aktif dalam kegiatan keislaman di kampus. Tidak berbeda dengan rasul-rasul asli yang lain sepanjang zaman, misi Sakti adalah untuk menyampaikan ayat-ayat Tuhan dan mengajak manusia untuk memurnikan pengkhidmatan hanya kepada-Nya.

Untuk berkenalan dengan 'rasul' sesat satu ini, kita cukup mengklik saktisihite.com atau kealamat facebooknya. Di blognya sakti cukup lengkap menjelaskan alasan ke'rasulan' dirinya, sedangkan di facebooknya juga tertera alamat serta no hp nya yang bisa dihubungi.

Kita cuma bisa berharap orang sejenis Sakti dan yang lainnya untuk segera bertobat dari keyakinan sesat mereka tersebut. Sehingga kita tidak perlu mengatakan apabila dirinya digebukin atau dihakimin massa dengan kalimat ," Hite..hite..sudah kubilang jangan mengaku rasul nya kau, masih juga kau mengaku rasul..sekarang..matilah kau..!!"(fq)


Sumber: www.eramuslim.com
JAKARTA--MI: Penularan HIV/AIDS di Indonesia paling banyak disebabkan oleh pengguna Napza melalui suntik 52,4%. Namun, ada kecenderungan peningkatan akibat lainnya, yakni hubungan homoseks.

Berdasarkan data penularan yang terjadi, akibat hubungan seks sesama lelaki saat ini teridentifikasi sebanyak 5,2 %. "Jumlah itu tidak sebegitu besar dalam beberapa tahun belakangan," kata dr Kemal dari Komisi penanggulangan HIV/AIDS dalam temu pers menyambut Hari AIDS Sedunia pada Desember mendatang.

Meningkatnya hubungan seks antarlelaki itu bukan hanya akibat suma sama suka sebagaimana yang terjadi antara waria, tetapi lebih disebabkan makin meningkatnya tren dan gaya hidup, terutama di kota besar. Penularan AIDS akibat wanita pekerja seksual (WPS) yang pada awalnya menduduki peringkat tertinggi, kini hanya sebesar 10,4% dan akibat waria sebesar 24,4%.

Karena itu, lanjut Kemal, prevalensi penularan HIV/AIDS dan epidemi penyakit ini ke depan semakin meningkat. Selain perlunya penanganan populasi kunci atau penular yang sudah ditangani, penting juga untuk memperhatikan perkembangan HIV/AIDS pada hubungan seks lelaki sama lelaki (LSL).

"Berdasarkan data hitungan Komisi Penanggulangan AIDS, pasien HIV pada LSL ini diperkirakan hanya 700 orang. Tapi, lembaga lain memperkirakan jumlahnya lebih dari 1.000 orang. Saat ini, masih sulit mencari atau menemukan bahwa mereka adalah LSL, berbeda dengan waria yang sudah terbuka," katanya.

Kemal juga menyebutkan kepedulian pemerintah daerah terhadap penanggulangan HIV/AIDS di daerah saat ini sudah semakin membaik. Ini ditandai dengan semakin banyaknya APBD untuk kesehatan penderita penyakkit ini. "Tapi, jumlahnya masih jauh dari kebutuhan yang sesungguhnya," kata dia. Kecuali DKI Jakarta, Bali, dan Papua, anggaran daerah masih di bawah dasar. (Hru/OL-04)

Sumber: www.mediaindonesia.com
AKARTA--MI: Sekitar 270 ribu penduduk Indonesia tertulah HIV/AIDS. Perkiraan tersebut meningkat jika dibandingkan dengan 2006 yang tercatat 193 ribu penduduk.

Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief pada konferensi pers Menyambut Pekan Kondom Nasional (PKN) 2009 di Jakarta, Kamis (12/11).

Menurutnya, data tersebut didapatkanya dari Departemen Kesehatan. "Kelompok usia 15-49 tahun merupakan populasi rawan tertular HIV/AIDS. Namun lebih dari 50 persen terjadi pada kelompok usia 15-29 tahun," ujarnya.

Senada dengan kepala BKKBN, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafidah Mboi menjelaskan peningkatan estimasi tersebut dikarenakan perilaku seks berisiko yang dilakukan oleh masyarakat. Perilaku seks beresiko itu dapat terjadi pada pasangan suami istri dan pasangan bukan suami istri.

Menurutnya, alat paling mutakhir untuk mencegah penularan tersebut adalah kondom. Tetapi tingkat penggunaan kondom di Indonesia sangat minim, apalagi penggunaan kondom perempuan.

"Sosialisasi PKN 2009 ini, juga ditujukan untuk mengenalkan kondom untuk perempuan," tambahnya.

Ia mengatakan, perempuan saat ini menjadi target kampanye kondom karena perempuan berhak melindungi dirinya dan keturunanya dari penularan HIV/AIDS. Selain itu, penggunaan kondom oleh laki-laki di Indonesia cenderung stagnan, hanya sekitar 1,3 %. (Ant/OL-01)

sumber: www.mediaindonesia.com

Tuntutan pengungkapan skandal Bank Century kian tak terbendung. Setidaknya, ada dua demonstrasi pada Jumat siang tadi yang menuntut agar skandal Century bisa segera diungkap.

Demo pertama ada di Gedung DPR. Demo yang dilakukan oleh ratusan mahasiswa ini menuntut Dewan Perwakilan Rakyat agar segera mengusut skandal Bank Century.

Sementara demonstrasi kedua terjadi di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK. Para demonstran yang terdiri dari nasabah Bank Century dan lembaga sosial masyarakat meminta KPK mengambil alih pengungkapan Bank Century.

Menanggapi ini, Ketua DPR Marzuki Alie menegaskan bahwa kasus Bank Century masih menunggu laporan resmi dari Badan Pemeriksa Keuangan, BPK. Selain itu, politisi dari Partai Demokrat ini pun menjelaskan bahwa dana untuk Bank Century itu bukan dana pemerintah. Tapi, dana lembaga penjamin perbankan.

Marzuki pun masih belum menandatangani usulan Hak Angket skandal Bank Century. Padahal, sudah lebih dari 130 anggota DPR yang membubuhi tandatangan mereka. Bahkan, kalau dihitung dari fraksi di DPR, hanya Fraksi Partai Demokrat saja yang belum mau ikut tandatangan.

Pengguliran hak angket Bank Century ditargetkan mulai disidangkan pada akhir Nopember ini.

Sumber: www.eramuslim.com
Ian Antono

Ian Antono yang memiliki nama asli Jusuf Antono Djojo lahir di Malang, Jawa Timur, 29 Oktober 1950. Ia adalah seorang musisi dan pencipta lagu yang juga salah seorang gitaris kelompok musik rock legendaris God Bless. Nah nama Ian Antono ini mulai menarik perhatian karena pada saat itu atmosfer musik rock di Indonesia belum ada yang memulai gan. God Bless lah yang pertama kali mempelopori. So secara otomatis Ian juga menjadi gitaris pertama yang berkibar di jalur rock Indonesia.



Eross Chandra



Eross Candra biasa disapa Eross adalah seorang pria kelahiran Yogyakarta, 3 Juli 1979 yang berprofesi sebagai musisi yang merupakan anggota dari grup musik Indonesia Sheila on 7 (ajariii aku tuk jadi pejantan tangguh ) Si Eross ini gan berposisi sebagai gitaris dari grup musik tersebut. Eross besar di keluarga pecinta musik. Ibunya seorang penyanyi, kakeknya pemain saksofon, dan pamannya mahir main gitar. Sejak SD, Eross telah mengenal dunia musik karena sering mendampingi ibunya yang latihan band di studio musik di rumahnya, Karangkajen, Yogyakarta. Eross sangat tertarik dengan alat musik gitar dan mempelajarinya. Gitar pertama dimiliki oleh Eross saat berusia 14 tahun sebagai kado ulang tahun dari ayahnya.
Selain di Sheila on 7, sekarang ini Eross juga sedang sibuk dengan proyek kelompok musik barunya, Jagostu. Namun, dia memastikan bahwa kelompok musik barunya tersebut tidak akan mengganggu eksistensi dan keutuhan SO7 yang sudah membesarkan namanya.

Abdee Negara



Abdee Negara lahir di Donggala, Sulawesi Tengah, 28 Juni 1968. Abdee ini adalah gitaris, vokal pendukung, penulis lagu dan produser yang cukup senior gan. Ia adalah salah satu gitaris Slank dengan gitaris lainnya, Ridho dan pernah bermain dengan gitaris nasional dan internasional lainnya, salah satunya Paul Gilbert . Selain Slank, band utamanya, Abdee juga memproduseri band Indonesia lainnya seperti Serieus. Sejak memulai karir musiknya, Abdee selalu bermain dan mempersembahkan gaya rock-blues.

I Wayan Balawan



Nah ini nih dewa gitarnya Indonesia. I Wayan Balawan lahir di Gianyar, Bali, 9 September 1973. Balawan terkenal sebagai pemusik Jazz papan atas Indonesia. Ia adalah seorang gitaris Jazz yang nama mencuat dan semakin difavoritkan di Indonesia dengan teknik bermain gitar Touch Tapping Style. Ia juga sempat mengenyam pendidikan musik di Australia namun dulu ia mengambil jurusan musik rock bukan jazz. Sekarang ini Balawan membentuk band Batuan Ethnic Fusion yang mengusung eksplorasi musik tradisional Bali.

Dewa Budjana



I Dewa Gede Budjana atau yang dikenal dengan nama Dewa Budjana lahir di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, 30 Agustus 1963. Ia adalah anggota grup musik Gigi dan berposisi sebagai gitaris. Ketertarikan dan bakat Dewa Budjana pada musik, khususnya gitar, sudah sangat dominan terlihat sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar di Klungkung Bali. Sampai-sampai, Budjana kecil pernah mencuri uang kakeknya untuk sekedar memenuhi keinginannya membeli gitar pertamanya seharga 10.000 Rupiah. Sejak memiliki gitar pertama inilah yang membuat Budjana tidak lagi memiliki semangat untuk bersekolah, baginya gitar adalah nomor 1. Pada saat itu Budjana mempelajari sendiri teknik bermain gitar, dan dia mampu dengan cepat mahir mempelajari lagu Deddy Dores berjudul Hilangnya Seorang Gadis dan lagunya The Rollies berjudul Setangkai Bunga, itupun disaat ia sama sekali belum tersentuh literatur-literatur musik/gitar yang formal. Sekarang ini selain masi aktif bersama Gigi, Budjana juga menjalani solo karir sejak tahun 1997.

NAH INI DIA SOSOK YANG NGAJARIN MEREKA MAIN GITAR.. WUEEEEEK... CUIIIH!!!



Sumber: haxims.blogspot.com

Membuat senjata api (senpi) jenis pistol ternyata hanya perlu biaya Rp 200.000. Setidaknya ,begitulah pengalaman Miftah Yama Fauzan, siswa kelas 10 SMAN 1 Kabupaten Sidoarjo.

Remaja berusia 15 tahun tersebut berhasil membuat prototipe senpi elektronik. Tanpa suara letusan, pistol buatan Miftah mampu memecahkan kaca.

Temuan Miftah telah dipresentasikan di depan dewan juri yang berjumlah 12 orang enam di antaranya bergelar professor dalam Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) Tahun 2009. Kegiatan ini digelar Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) di Jakarta, Agustus 2009 lalu.

Kala itu pistol elektronik ala Miftah menyisihkan 1.700 karya lain, dan Miftah pun menggondol juara kedua di antara 34 para finalis. “Saya tidak menyangka akan menang,” aku Miftah, saat ditemui Surya di SMAN 1 Sidoarjo, Sabtu (7/11).


Ia bercerita, ide pembuatan pistol elektronik ini berawal dari rasa keprihatinannya ketika mendengar banyak berita mengenai kecelakaan pesawat terbang milik TNI. Berita-berita itu memaparkan bahwa penyebab kecelakaan diduga karena kurangnya perawatan pesawat terbang akibat kecilnya anggaran pemerintah untuk membiayai pemeliharaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

“Makanya jika pistol ini bisa diproduksi dengan murah (secara nassal, Red), maka sisa dananya bisa dipakai membiayai Alutsista lain,” kata Miftah, didampingi Wakasek Bidang Humas SMAN 1 Sidoarjo, Eko Redjo Sunaryanto.

Sebenarnya ide itu sudah muncul sejak setahun lalu, saat Miftah masih duduk di bangku SMPN 4 Sidoarjo. Namun, dia baru mewujudkannya saat mengetahui dari internet ada lomba LPIR.

Maka, Miftah tanpa bimbingan siapapun menyiapkan pistol elektronik itu dua bulan menjelang LPIR. Hobinya menekuni pelajaran fisika memicunya bertindak serius mencari di situs-situs internet mengenai bahan-bahan materi yang mengulas senpi.

“Saya menyiapkan karya ini sendiri, termasuk mengirimkan proposal ke panitia, ” kenangnya.
Berbekal empat bahan utama berupa baterai ponsel, penaik tegangan listrik, kapasitor, dan kumparan pelontar Miftah mewujudkan gagasannya menciptakan pistol elektronik. Berbeda dengan pistol umumnya, yang menyalak keras jika pelurunya ditembakkan, pistol buatan Miftah tanpa suara.

Hal itu karena sistem kerja pistol tersebut digerakkan dengan energi kinetik yang dipadukan dengan energi elektronik. Sehingga, peluru yang ditembakkan itu bergerak karena dilontarkan oleh kombinasi dua energi tersebut.

“Namun bahan pelurunya harus khusus, terbuat dari logam fero-magnetik, logam yang bisa ditarik magnetik, ” jelas anak pertama pasangan M Ashari dan Ny Rossi Indarjani, warga Desa Pilang, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, ini.

Saat uji coba, Miftah melengkapi pistol ciptaannya dengan peluru berupa paku yang dipotong sedemikian rupa. Ukuran peluru pistol ini berdiameter 0,5 sentimeter dan panjang dua sentimeter. Tatkala uji coba sebelum memenangi LPIR, peluru-paku ini mampu memecahkan kaca berukuran tebal dua milimeter.

Untuk membuat prototipe pistol, Miftah merogoh kocek sekitar Rp 200.000. Duit itu dipakai membeli sejumlah bahan utama pistol elektronik tersebut. Menurutnya, biaya bisa relatif kecil karena dia memakai bodi pistol hanya dari plastik mika yang dipotong dan dibentuk menyerupai pistol.

Jika nanti diproduksi massal, bahan untuk bodi pistol bisa dipilih sesuai kebutuhan. Bahkan fungsi pistol juga bisa disesuaikan dengan keperluan. Misalnya, jika untuk dipakai polisi melumpuhkan penjahat, kekuatan peluru tak harus mematikan; sedangkan bila dipakai sebagai senjata untuk berperang, kekuatan daya lontar peluru bisa dimaksimalkan. “Saat ini peluru bisa ditembakkan sejauh 10 meter,” urainya.

***

Kini Miftah serius mengotak-atik pistol buatannya itu karena bakal diikutkan ke Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) yang digelar Depdiknas di Jakarta, 16-20 November 2009 mendatang. Karya Miftah akan bersaing dengan karya 75 finalis LPIR 2009, yang pemenangnya akan diikutkan kejuaraan yang sama di tingkat internasional.

“Ini saya masih otak-atik, termasuk mendesain ukuran peluru yang tepat sehingga bisa melesat jauh, ” ujarnya.

Dengan bimbingan sang guru fisika, Triwati, dan dorongan sang ayah, M Ashari yang juga dosen Teknik Elektro Insitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Miftah pun berusaha keras menyempurnakan temuannya. Antara lain, memperbaiki bodi pistol yang sempat retak karena terbentur koper saat pulang dari Jakarta mengikuti pembinaan seusai menyabet medali perak LPIR 2009.

Beberapa kali pistolnya juga dicoba dengan menembakkan peluru ke sejumlah kaleng bekas minuman ringan. Peluru berupa paku tumpul ini mampu melubangi kaleng-kaleng bekas tersebut. “Kaleng saja tembus, apalagi kulit manusia, ” seloroh bocah murah senyum ini, saat menunjukkan kaleng bekas di rumah orangtuanya, di Desa Pilang.

Wakasek Bidang Humas SMAN 1 Sidoarjo, Eko Redjo Sunaryanto, merasa bangga dengan prestasi salah satu siswanya itu. Pihak sekolah akan terus memfasilitasi siswa yang mampu berkarya, apalagi hasil karyanya bisa merambah dunia internasional karena SMAN 1 Sidoarjo sudah menyandang predikat Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).

Dia berharap budaya ilmiah mampu menjadi budaya baru di kalangan siswa SMAN 1 Sidoarjo. Sehingga, budaya ini akan mampu menciptakan iklim berkompetisi yang sehat di antara para siswa. “Dengan demikian siswa tetap bisa berprestasi di kancah internasional, ” tegasnya

Sumber: haxims.blogspot.com


Jakarta - Presiden Direktur Dompet Dhuafa Republika, Ismail A. Said, mengatakan film Emak Ingin Naik Haji adalah representasi keadaan masyarakat kita saat ini.
"Di satu sisi banyak kaum muslim yang bisa berkali-kali berangkat haji, sementara di sisi lain ada kaum dhuafa yang susah payah menyisihkan seribu demi seribu perak dari rezekinya untuk menggapai cita-cita berangkat haji," kata Ismail dalam acara nonton bareng film Emak Ingin Naik Haji di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Senin (9/11).

Pemutaran film itu secara khusus dipersembahkan bagi korban gempa Sumatera Barat.

Dalam kesempatan itu, Ismail A. Said memaparkan program Solidaritas Gempa Indonesia Dompet Dhuafa Republika di masyarakat korban gempa di Sumatera Barat.

“Dompet Dhuafa kini sedang membangun 1000 hunian sementara untuk korban gempa Sumatera Barat, membangun 12 sekolah permanen, 2 masjid permanen, dan 2 rumah sakit lapangan,” ungkap Ismail.

Acara yang dimeriahkan pula oleh performance dari siswa sekolah SMART Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa Republika, ini diisi dengan penampilan Hadad Alwi, Sulis, Shilla, SNADA, dan Reza Artamevia.

Film Emak Ingin Naik Haji akan diputar secara serentak di bioskop-bioskop Indonesia mulai 12 November 2009.

Sumber: www.primaironline.com


Jakarta - Mantan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Williardi Wizar menyatakan dengan tegas ada skenario yang dibuat untuk menjatuhkan mantan Ketua KPK Antasari Azhar.

"Jam 12 malam saya diperiksa dengan didatangi oleh Direktur Reserse Polda Metro. Dia waktu itu mengatakan, menurut perintah atasan, kau bikin saja yang kau peduli. Demi Allah saya bersumpah, sasaran kita hanya Antasari. Demi Allah saya bersumpah," ujarnya dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (10/11).

Atas arahan itu kemudian Williardi mengikuti saran Direskrim Polda Metro Jaya, Kombes, M Iriawan.

"Kita samakan saja kalau memang itu perintah pimpinan silakan saja kata saya. Setelah kami membuat itu, besok kelar di TV. Saya SMS Direktur, kalau bapak bisa buka SMS saya tolong diklarifikasi masalah ini," paparnya.

Ia menambahkan ini skenario ini juga dikondisikan oleh beberapa pejabat dan petinggi Mabes Polri.

Sementara itu terdakwa Antasari menangis atas pengakuan yang dilontarkan Williardi. Antasari bahkan sempat bertakbir atas pengakuan ini.

"Beliau sangat-sangat kaget, dari keterangan Wiliardi. Sejarah peradilan, baru inilah kami mendengar saksi. Ternyata diskenariokan. Kita dengar langsung pernyataan saksi, bahwa sasaran kita adalah Antasari. Itu yang beliau sedih dalam sejarah hidupnya," kata kuasa hukum Antasari, Juniver Girsang.

Sumber: www.primaironline.com

VIVAnews - Daniel Daen, pelaku penembakan Direktur Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnain, akhirnya mengakui bahwa dirinya adalah orang yang menembaknya dalam kasus pembunuhan tersebut.

Pada sidang sebelumnya, Daniel tidak mau memberikan keterangan dengan alasan sakit. Padahal Daniel takut memberikan keterangan karena diancam dibunuh.

Dalam pengakuannya di hadapan majelis hakim, Daniel saat itu membonceng motor dengan Heri Santosa di kawasan Modern Land, Tangerang.

Daniel membawa senjata, yang diakui diberi dari terdakwa Fransiskus Tiga hari sebelumnya.

Keduanya diminta oleh Hendrikus, untuk mengikuti mobil Nasrudin dan diminti melakukan teror.

Dia kemudian melutuskan dua butir peluru ke pintu belakang samping kiri mobil Nasrudin. Saat itu dirinya mengaku tidak melihat ada orang di dalamnya.

Daniel kemudian kembali ke kosnya di Palbatu, dan bertemu dengan Hendrikus di Casablanca, Jakarta Selatan.

Keduanya kemudian menuju kawasan Pondok Labu dan memberikan uang kepada Daniel Rp 10 juta.

"Sebelumnya Hendrikus bicarakan ke saya kalau (Nasrudin) bahaya dan akan mengacaukan pemilu. Kalau tidak ada kata itu saya tidak mau,"

Daniel kemudian menuju Stasiun Gambir dan naik kereta jurusan Surabaya. Minggu sore, dia menuju Flores menumpang kapal laut.

Setelah berada di Flores selama satu bulan, Daniel kemudian menuju Jakarta dengan kapal laut dan turun di Pelabuhan Tanjung Priok.

Saat turun dari kapal, Daniel langsung diamankan petugas di Tanjung Priok.

Menurut pengakuannya, saat berada di mobil milik petugas, dirinya dalam mobil dirinya dipukuli. Dirinya kemudian dibawa ke hotel langsung dipukuli dan diborgol.

"Kaki di atas kepala di bawah. dari malam hingga pagi. Setelah itu baru saya di BAP," ujarnya.

Sebanyak lima eksekutor menjadi terdakwa dalam kasus pembunuhan ini. Mereka adalah Daniel Daen, Eduardus alias Edo, Fransiskus, Hendrikus dan Heri Santosa.

Daniel mendapat tugas sebagai penembak Nasrudin, Edo berperan sebagai pemberi order, Hendrikus sebagai penerima order, Fransiskus sebagai pemantau keadaan saat penembakan serta observasi kegiatan korban, dan Heri sebagai pengendara sepeda motor yang ditumpangi penembak.

Selama ini para terdakwa mengaku mendapat perintah untuk menghabisi nyawa Nasrudin dengan alasan menjalankan tugas negara. Mereka diminta menembak Nasrudin yang dianggap sebagai musuh negara.

Sumber: www.yahoo.com
Postingan Lama Beranda
  • Recent Posts
  • Comments
Advertisement Join My Community at MyBloglog!

Daily Video

Page

  • Beranda
Website counter
Adsense Indonesia' }, itemTemplate: '
{{title}}
' }); });

Photos on Flickr

2010 Simplex Enews. All rights reserved.
Designed by SimplexDesign